A. Unsur-unsur Intrinsik
1. Tema
Tema cerpen “Seberkas Cahaya dalam Gelap” karya Ikeu Supomo adalah ketuhanan dan sosial, kasih sayang Tuhan kepada umat-Nya. Tuhan akan selalu menolong umat-Nya yang selalu tabah dan penuh pasrah dalam menghadapi segala macam cobaan. Ketabahan selalu akan menghasilkan buah yang manis dalam setiap hidup dan kehidupan manusia. Dengan kehendak Tuhan pun, seseorang yang mau membantu orang lain saat menghadapi musibah meskipun orang tersebut baru dikenalnya. Hal itu menunjukkan bahwa dia memiliki rasa social dalam dirinya sehingga hatinya tergerak untuk menolonhg orang lain.
Hal ini dapat kita temukan pada cerpen tersebut pada saat Prasetyo sakit parah dah harus masuk rumah sakit. Meskipun sakitnya parah, ia tetap tabah menghadapi cobaan atas penyakit yang dideritanya itu. Begitu pun dengan keluarga Prasetyo yang selalu tabah dan tegar melihat kondisi Prasetyo yang terbaring lemah tak berdaya. Hingga akhirnya Prasetyo meninggal dunia. Seluruh keluarga rela dan ikhlas atas kepergiannya karena mereka percaya semua itu merupakan takdir Tuhan dan merupakan jalan yang terbaik bagi Prasetyo, karena meskipun dia diberikan hidup, dia akan sangat menderita. Dengan ketabahannya, Nina adik Prasetyo akhirnya menemukan seseorang yang akan selalu mengisi hari-harinya, menggantikan Prasetyo dalam keluarganya. Nina sangat bahagia karena dia bisa menemukan orang sebaik Aditya. Aditya berjanji akan selalu menjaga Nina.
Dalam cerpen tersebut, pengarang ingin menyampaikan pesan kepada pembaca bahwasanya dalam menjalani kehidupan ini hendaknya senantiasa ikhlas, tabah dan tegar dalam menghadapi segala macam cobaan yang menerpa. Kita harus percaya, Tuhan akan selalu ada bersama kita saat suka meupun duka, karena dengan ikhlas, tabah dan tegar akan menghasilkan buah yang manis dalam menjalani kehidupannya. Dibalik sebuah cobaan pasti akan ada hikmahnya. Oleh sebab itu penulis menggunakan tema tersebut dalam cerpen “Seberkas Cahaya dalam Gelap”. Pengarang merasa sifat ikhl;as, tabah da tegar perlu dimiliki oleh setiap manusia dalam menjalani setiap hidup dan kehidupannya. Di saat kita terpuruk, kesusahan dalam menghadapi cobaan hendaknya merasa yakin bahwa segala sesuatunya itu akan kembali kepada-Nya.
2. Alur/ Plot
a. Tahapan Permulaan
Satuan-satuan peristiwa dengan nomor 1 s.d. 8 dapat disebut sebagai tahapan permulaan. Satuan-satuan peristiwa itu masih merupakan titik tolalk keberangkatan cerita. Berisi pengenalan terhadap masalah yang akan dipaparkan yaitu perihal Mas Prasetyo yang sakit., sentuhan rasa dalam pandangan pertama Nina dan Dokter Aditya, bahwa kejadian itu terjadi di sebuah rumah sakit militer, dan penyakit apa yang diderita Mas Pras, tokoh sentral dalam cerpen itu.
Satuan peristiwa nomor 9 s.d. 25 juga termasuk tahapan ini. Satuan peristiwa ini memperkenalkan bagaimana keluarga Ibu Darno dan putra-putrinya itu. Mengapa dia menjanda dan karena apa? Mengapa Mas Pras sampia dibawa ke rumah sakit? Ibu Darno menjanda karena suaminya telah meninggal dunia sepuluh tahun yang lalu karena penyakit jantung yang dideritanya. Konflik batin yang terjadi dalam satua peristiwa ini masih berupa pancingan terhadap masalah yang kaan dipaparkan. Begitu pula satuan peristiwa nomor 26 s.d. 32 masih termasuk dalam tahapan permulaan. Konflik yang belum begitu ada, bahkan dalam satua peristiwa ini diperkenalkan sipa sesungguhnya Mbak Dien.
b. Tahapan Komplikasi
Tahapan ini terjadi pada satuan peristiwa nomor 33 s.d. 75. Dalam tahapan ini konflik-konflik itu bermula, berkembang, dan secara perlahan menuju titik kulminasi paling atas dari konflik-konflik itu. Konflik itu bermula ketika Nina melihat nafasnya tersendat-tersendat dan di luar dugaannya memuntahkan darah segar . Terjadi konflik batin dalam diri Nina melihat keadaan kakaknya yang sanagt mengkhawatirkan, pengganti papanya yang sudah meninggal, tulang punggung keluarganya.
Konflik mulai memanas dalam satuan peristiwa nomor 53 ketika Dokter Aditya menjelaskan bahwa lever atau hati Prastyo sudah tidak berfungsi lagi sebagaimanan mestinya bahkan seolah sudah pecah. Konflik ini sekarang tidak hanay terjadi dalam diri Nina, namun juga terjadi dalam diri Mbak Tita dan suaminya, Mbak Wini dan pacarnya, Mbak Dien, bahkan Dokter Aditya sendiri. Apalagi darah sudah keluar dari telinga, mata, dan hidung Mas Pras. \Mas Pras tiba-tiba saja membuka matanya dan menatap semua saudaranya termasuk Dokter Aditya yang berdiri dekat Nina, bahakan Prasetyo Nampak tersenyum. Setelah Ibu Darno datang dalam suasana krisis mencium pipi, maka Mas Pras menutup matanya kembali.
c. Tahapan Puncak
Tahapan puncak ini terjadi pada satuan peristiwa nomor 75 s.d. 79. Satuan peristiwa nomor 78 adalah satuan peristiwaa yang paling puncak, yaitu tatkala Dokter Aditya secara pasti dan yakin melipat tangan Prasetyo dan berbisik, “Ia sudah pergi dengan tenang.” Akhirnya prasetyo meninggal, meninggalkan keluarga yang sangat dicintainya untuk selama-lamany. Seluruh keluarga snagat terpukul atas kepergian Prasetyo.
Peristiwa yang terjadi dalam tahapan puncak ini benar-benar peristiwa yang akan menentukan nasib keluarga Ibu Darno, karena bagaimanapun kematian Prasetyo bagi keluarga itu merupakan hilangnya sebuah tiang penyangga atau pedoman kehidupan mereka.
d. Tahapan Peleraian
Dalam tahapan ini konflik mulai mereda., dengan perlahan kamblai pada kondisi tenang. Satuan peristiwa nomor 80 s.d. 88 merupakan tahapan inti. Di saat Ibu Darno mengucapkan kalimat “Mama ikhlas. . . mama ikhlas, saying.” Tanda kepasrahan itu tampak sekali. Ibu Darno percaya betul bahwa kuasa Tuhan telah terjadi atas diri anaknya. Kepasrahan ini juga pertanda susutnya konfllik batin yang terjadi dalam diri mereka. Keterlibatan Dokter Aditya yang lebih dari kerja seorang dokter merupakan jawaban terhadap masalah yang mungkin akan timbul dalam keluarga Ibu Darno. Keakraban dokter Aditya dan Nina merupakan sinar ternag lain yang muncul dalam keluarga itu.
e. Tahapan Akhir
Satuan peristiwa nomor 89 s.d. 104 termasuk tahapan kahir. Dalam tahapan ini dibuktikan secara konkret bahwa Dokter Aditya benar-benar mencintai Nina, dan sebaliknya Nina juga mencintai Dokter Aditya. Dokter aditya bertekad untuk melindungi keluarga Ibu darno dan berjanji akan melindungi, mencintai Nina sebagai laki-laki sejati dengan segala tanggung jawabnya.
f. Jenis Plot
Cerpen “Seberkas cahaya dalam Gelap” menggunakan plot tertutup, artinya cerita itu berakhir dengan sebuah kepastian. Tak ada tanda tanya sedikit pun dari pihak pembaca, karena jawabannya sudah jelas Nina pasti akan hidup berbahagia dengan Dokter Aditya.
3. Konflik
a. Konflik dalam diri tokoh (konflik batin)
Konflik ini terjadi dalam diri Nina melihat keadaan Mas Pras yang sangat mengkhawatirkan. Peran Mas Pras dalam keluarganya sangat berperan penting karena Mas Pras adalah tulang punggung keluarga pengganti ayahnya yang sudah meninggal sepuluh tahun lalu.
b. Konflik seorang tokoh dnegan tokoh lain (konflik manusia melawan manusia)
Konflik ini terjadi pada diri Nina dan Dokter Aditya yang tiba-tiba saja menyelubungi diri mereka. Dokter Aditya merasa prihatin dan simpati kepada Nina yang mengkhawatirkan keadaan Mas Pras.
c. Konflik tokoh melawan alam
Konflik ini terjadi dalam diri Mas Pras yang berusaha melawan penyakit lever yang semakin parah yang dideritanya itu. Meskipun penyakitnya semakin parah tetapi Mas Pras berusaha kuat. Namun takdir berkata lain, Tuhan memanggil Mas Pras untuk kemblai kepada-Nya.
d. Konflik manusia dengan Tuhan
Konflik ini terjadi dalam diri keluarga Prasetyo yang senantiasa selalu berdoa untuk kesembuhan Prasetyo. Mereka percaya Tuhan akan memberikan yang terbaik untuk Prasetyo dan keluarganya.
4. Perwatakan
Dalam cerpen “Seberkas Cahaya dalam Gelap”, pengarang melukiskan keadaan tokoh-tokohnya dengan cara analitik takni pengarang menjelaskan secara langsung keadaan dan watak tokoh-tokohnya. Saat membaca cerpen tersebut, pembaca dapat langsung mengetahui watak masing-masing tokoh.
a. Prasetyo
Memilki sifat tanggung jawab terhadap keluarganya dan mencintai keluarganya. Dia rela berjuang demi kehidupan keluarganya, menjadi tulang punggung kelurga menggantikan papanya yang telah meninggal ,mencari nafkah untuk menyekolahkan adik-adiknya. Pada saat dia sakit pun dia berusaha untuk tetap kuat, namun takdir telah menentukan bahwa dia harus pulang kepada sang Illahi. Sebenarnya penyakit yang dideritanya itu telah ia ketahui sejak lama, akan tetapi ia tidak memberitahuka kepada keluarganya karena ian tidak mau membebankan kepada keluarganya karena ia masih memiliki tanggung jawab terhadap keluarganya. Prasetyo percaya bahwa Tuhan akan selalu bersamanya dan akan memberikan jalan terbaik bagi hidup dan kehidupannya.
b. Nina
Memilki sifat baik, menyayangi keluarganya terutama kakak dan Ibunya. Bagi Nina, Prasety merupakan orang yang snagat berperan penting dalam kehidupannya. Prasetyo yang sangat menyayangi Nina, Nina pun demikian. Selama kakaknya masih hidup, Nina tidak pernah membuat kakanya kesal dan Nina mau menuruti segala aturan yang diberikan kakaknya karena ia yakin apa pun yang dilakukan oleh kakaknya itu merupakan yang terbaik baginya. Bahkan masalah percintaan pun, Prasetyo sering melarang Nina untuk dekat dengan lelaki. Akan tetapi pada saat Nina dekat dengan Aditya, Prasetyo mengizinkan. Nina sangat bahagia.
c. Dokter Aditya
Memiliki sifat baik, penolong, dan bertanggung jawab. Dokter Aditya merasa simpati kepada Nina yang telah kehilangan orang yang sangat dicintainya. Aditya selalu menemani hari-hari Nina sejak Prasetyo meninggal dunia. Aditya pun berusaha untuk bisa dekat dengan keluarga Nina. Benar saja, keluarga Nina bisa menerima kehadiran Aditya dalam keluarganya. Aditya bebrjanji untuk menjaga, membahagiakan, dan sellau memberikan yang terbaik bagi Nina dan keluarganya.
d. Ibu Darno
Memiliki sifat pekerja keras dan menyayangi anak-anaknya. Uang pensiunan suaminya yang telah meninggal dirasakan masih jauh d ari cukup, oleh karena itu dia tetap bekerja yakni menjahit. Meskipun Prasetyo menjadi tulang punggung keluarganya, namun Bu Darno tidak mau terus membebani kehidupannya pada anaknya, apalagi masih ada anaknya yang harus dibiayainya untuk sekolah. Bu Darno sangat mencintai dan menyayangi anak-anaknya.
Selain itu, Bu Darno juga termasuk orang yang senantiasa ikhlas dal;am menjalani setiap kehidupan. Dia ikhlas bekerja menjadi penjahit demi kelangsungan hidup dan masa depan anak-anaknya. Tanpa letih dia terus bekerja keras agar segala sesuatu yang diinginkan anak-anaknya dapat terwujud. Terlebih lagi pada saat Prasetyo terbaring lemah di rumah sakit, dengan penuh cinta Bu Darno menemani anaknya, dan pada saat Prasetyo telah dipanggil oleh Tuhan, Bu Darno ikhlas menerima ketentuan Tuhan karena ia yakin bahwa kematian Prasetyo adalah yang terbaik, jika Prasetyo hidup pun dia akan sangat menderita.
5. Gaya Penulisan
Dalam cerpen “Seberkas Cahaya dalam Gelap”, pengarang menggunakan kata-kata yang terbilang tidak istimewa atau sederhana. Kata-kata yang digunakan adalah kata-kata dipakai dalam kehidupan sehari-hari, Tuturannya mirip orang yang melapaorkan peristiwa yang baru dialami kepada orang lain. Tataan katanya tak menyentuh perasaan dan juga tak menyeret pembaca untuk memakai kekuatan imajinya dalam emnggeluti cerita tesebut, meskipun ada juga kata-kata yang kurang diketahui maknanya oleh kita karena kata-kata itu jarang digunakan seperti kata helicak dan baju kombor. Selain itu, di sana juga terdapat penggunaan majas personifikasi, yakni pada kalimat angin di tepi pantai laut itu berhembus lembut menyentuh tubuh. Namun penggunaan majas di sana tidak terlalu dominan, hanya sebagian kecil saja. Tujuannya untuk lebih menciptakan suasana cerita agar lebih efektif menyentuh rasa pembaca.
6. Sudut Pandang
Sudut pandang yang digunakan pengarang dalam cerpen “Seberkas Cahaya dalam Gelap” adalah sudut pandang orang ketiga. Pengarang menggunakan nama orang dan menceritakan kehidupan orang lain bukan kehidupan dirinya. Pengarang tidak terlibat secara langsung maupun tidak langsung dalam peristiwa yang terjadi dalam cerpen tersebut.
Ike Supomo selaku pengarang bertindak serba tahu. Ike Supomo mengetahui semua watak, keadaan, sikap hidup, dan sebaginya dari semua tokoh cerita tersebut. Secara jelas Ike Supomo dapat melaporkan bagaimana kehidupan keluarga Ibu Darno. Ike Supomo mengetahui secara pasti bagaimana watak Nina, bagaimana watak Prasetyo, Dokter Aditya, Ibu Darno, dan tokoh-tokoh lainnya. Bahkan Ike Supomo secara pasti dapat mengetahui nasib yang akan menimpa diri Prasetyo.
7. Latar (Setting)
Latar dalam sebuah cerpen terbagi menjadi empat, yakni latar tempat, waktu, alam dan keadaan sosial dalam sebuah cerita. Latar merupakan unsur pembangun cerpen yang berkaitan erat dengan tema dan tokoh penokohan. Latar ini pada dasarnya kesesuaian dari tema yang diambil pengarang dalam menyusun sebuah cerita, selain itu latar juga ditentukan dan disesuaikan dengan tokoh dan penokohan agar terciptanya sebuah karya yang sempurna. Namun selain hal tersebut, latar juga diambil pengarang untuk menggambarkan atau mencerminkan cerita pada tahun atau zaman tententu cerita itu terjadi.
a. Latar alam
Di pantai. Tempat itulah yang menjadi saksi ungkapan cinta Aditya kepada Nina. Di tempat itu, Aditya menyatakan kesungguhan cintanya kepada Nina, Nina sangat senang karena ia telah memnemukan orang yang akan menggantika kakaknya yang telah meninggal.
b. Latar waktu
Awal pertemuan Nina dan Dokter Aditya adalah pagi hari, saat Nina akan berkunjung menengok keadaan kakaknya. Saat itu, nina melihat aditya yang telah latihan karate. Saat pertama kali melihat sosok Aditya, Nina sanagt kagum kepadanya. Sementara itu, meninggalnya Prasetyo terjadi pad siang hari setelah penyakit yang diderita Prasetyo semkain parah. Sedangkan bersatunya cinta Nina dan Aditya malam hari di sebuah pantai. Bagi Nina, pergi ke pantai malam hari adalah pengalaman pertamanya. Ia sangat senang.
c. Latar sosial
Terjadi di lingkungan cendekiawan, keluarga Nina yang merupakan keluarga militer dan Aditya yang berprofesi sebagai seorang dokter. Rasa social/ kemanusiaan muncul dalam diri Aditya saat dia mau menolong Nina yang tengah berduka karena kehilngan orang yang selama ini menjadi tulang punggung keluarganya, orang yang sangat menyayanginya dalam kelurganya. Meskipun Aditya baru mengenal Nina tetapi Aditya bertekad untuk selalu menjaga Nina serta mencintai dan menyayanginya selama hidupnya.
d. Latar ruang
Awal cerita ini terjadi di sebuah rumah sakit, tepatnya di sebuah kamar yang menjadi ruangan tempat Prasetyo dirawat. Tempat itu pula yang mempertemukan Aditya dan Nina hingga akhirnya keduanya saling mencintai. Tempat itu pula yang menjadi saksi akhir hidup Prasety. Di tempat itu Prasetyo menghembuskan nafas terkahirnya dan meninggalkan keluarganya untuk selama-lamanya.
B. Kaitan Antarunsur Intrinsik
1. Kaitan Antara Tema dengan Alur, Konflik, Perwatakan, Gaya Penulisan, Sudut Pandang, dan Latar
Antara tema dengan alur sangat berkaitan. Tema pada cerpen Seberkas cahaya dalam Gelap adalah ketuhanan dan social. Cerita tersebut menceritakan kehidupan seseorang yang tengah dilanda musibah, tetapi ia tetap tabah dalam menghadapi musibah tersebut sehingga ketabahannya itu berbuah manis. Pengarang mengambil tema tersebut agar kita selaku pembaca mengetahui bahwasanya jika kita senantiasa tabah dalam menghadapi ujian karena seberat apa pun ujian yang dihadapi, jika kita selalu tegar maka kita akan mendapatkan hal yang baik yang sebelumnya tidak pernah kita ketahui. Tema yang diangkat sangat sejalan dengan cerita yang disajikan. Pengarang berusaha meyakinkan pembaca agar berbuat baik kepada siapa pun.
Antara tema dengan konflik, pengarang menyajikan konflik-konflik yang sangat erat kaitannya dengan Tuhan. Saat Prasetyo sakit, kelurganya yakin bahwa sakitnya Prasetyo adalah kehendak Tuhan, dan meninggalnya Prasetyo pun karena kehendak Tuhan. Ujian yang dihadapi adalah kehendak Tuhan, kebaikan Prasetyo kepada Nina pun merupakan kehandak Tuhan atas kesabaran dan ketabahan Nina dalam menghadapi ujian yang dia terima beserta keluarganya. Sikap Aditya yang mau menolong Nina dan keluarganya menandakan bahwa dalam diri Aditya terdapat jiwa sosial.
Antara tema dengan perwatakan, dalam cerita watak masing-masing tokoh diceritakan sangat sesuai dengan tema yang diusung dalam cerita. Karena temanya ketuhanan dan sosial, maka pengarang menceritakan secara langsung keadaan masing-masing tokoh. Tujuannya agar pembaca pada saat mulai membaca langsung merasa terbawa dalam cerita.
Antara tema dengan gaya penulisan, karena menceritakan tentang kehidupan sosial, maka gaya penulisan yang digunakan pun adalah kata-kata yang sederhana, agar para pembaca tidak mengalami kesulitan dan pembaca tidak memerlukan kekuatan imajinya dalam menggeluti cerita tersebut.
Antara tema dengan sudut pandang, pengarang menceritakan kehidupan sosial orang lain dan kehidupan orang yang selalu ikhlas dalam menghadapi cobaan. Pengarang tidak terlibat secara langsung dalam cerita. Pengarang merupakan orang yang serba tahu, ia mengetahui semua keadaan tokoh-tokohnya bahkan nasib yang akan dialami oleh tokoh selanjutnya. Dengan begitu maka pembaca tidak penasaran akan cerita tersebut.
Antara tema dengan latar, karena temanya sosial maka ceritanya pun terjadi dalam lingkungan sosial.
2. Kaitan Antara Alur dengan Konflik, Perwatakan, Sudut Pandang
Antara alur dengan konflik dalam cerita, pengarang berusaha menampilkan konflik-konflik yang signifikan sehingga jalan ceritanya menjadi menarik dan pembaca ingin menuntaskan membaca cerpen tersebut. Jalan cerita yang tidak berbelit-belit dan hadirnya konflik yang runtun membuat cerita ini menjadi terasa asyik untuk dibaca.
Antara alur dengan perwatakan ada kaitannya. Pengarang menceritakan kehidupan masing-masing tokoh dari awal hingga akhir. Tanpa tokoh, cerita tidak mungkin akan terjadi.
Kaitan antara alur denga sudut pandang, sudut pandang yang digunakan pengarang dalam menceritakan cerita tersebut adalah sudut pandang orang ketiga. Pengarang menceritakan kehidupan orang lain, pengarang tidak terlibat dalam cerita. Pengarang bertindak sebagai orang yang serba tahu, pengarang menceritakan kejadian bahkan dia bisa mengetahui apa yang akan terjadi dengan kehidupan keluarga tersebut
3. Kaitan Antara Konflik dengan Perwatakan, Gaya Penulisan, dan Latar
Kaitan anatara konflik dengan perwatakan, konflik yang terjadi dalam cerpen “Seberkas Cahaya dalam Gelap” menunjukkan watak yang dimiliki oelh masing-masing tokoh. Misalnya, pada saat Prasetyo meninggal dunia, Nina tetap tabah dan ikhlas menerima kenyataan itu. Dengan begitu, maka pembaca bisa mengetahui watak Nina bahwa Nina memiliki sifat penyabar.
Dalam konflik yang terjadi, gaya penulisan yang digunakan pengarang adalah menggunakan bahasa yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Jadi dalam memahami konflik yang terjadi pun, pemabaca dapat dengan mudah memahaminya.
Antara konflik dengan latar, konflik terjadi di lingkugan sosial (latar sosial), di rumah sakit (latar ruang), di pantai (latar alam).
4. Kaitan Antara Perwatakan dengan Gaya Penulisan
Kaitan antara perwatakan dengan gaya penulisan, dalam menentukan perwatakan masing-masing tokoh, pengarang menjelaskan secara langsung watak masing-masing tokoh dengan menggunakan bahasa yang sederhana, bahasa yang digunakan dalam berkomunikasi sehari-hari. Jadi, pembaca tidak memerlukan pemahaman yang terlalu dalam untuk mengatahui watak masing-masing tokoh.
5. Kaitan Antara Gaya Penulisan dengan Sudut Pandang dan Latar
Gaya penulisan yang digunakan pengarang adalah bahasa yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari, penggunaan majas hanya sedikit. Sudut pandang yang digunakan adalah sudut pandang orang ketiga (Nina, Aditya, Prasetyo,Ibu Darno). Kaitan antara sudut pandang dan gaya penulisan, masing-masing tokoh menggunakan bahasa yang sesuai dengan usia dan keadaan mereka. Dokter Aditya misalnya, karena ia adalah seorang dokter, maka dalam berbicara pun ia menggunakan kata-kata yang bijaksana serta selalu sopan kepada pasien maupun keluarga pasien, termasuk kepada kelauraga Prasetyo.
Antara gaya penulisan dengan latar, penggunaan bahasa yang digunakan disesuaikan dengan kondisi di mana para tokoh itu diceritakan. Dalam latar ruang yakni di sebuah rumah sakit, gaya bahasa yang digunakan Dokter Aditya disesuaikan karena dia sedang berhadapan dengan pasien, namun pada saat di pantai (latar alam) bahasa yang digunakannya pun berbeda, tidak seperti ia sedang berada di rtumah sakit. Gaya bahasa yang digunakan disesuaikan dengan latar yang terjadi.
C. Analisis Struktural Semiotik Berdasarkan Kode Bahasa, Kode Budaya, dan Kode Sastra
1. Helicak
Helicak adalah sebuah kendaraan beroda tiga yang menggunakan mesin, bentuknya mirip bajaj. Dilihat dari kode budaya, helicak merupakan kendaraan bermesin yang memiliki roda tiga dan lahir sekitar tahun 70-an, tepatnya pertama kali hadir yaitu di Jakarta.Pengarang menggunakan kendaraan helicak dalam cerpen tersebut karena cerita tersebut di buat sekitar tahun 70-an, jadi pada saat itu kendaraan yang digunakan pun disesuaikan dengan kendaraan yang sedang marak digunakan pada saat itu. Dilihat dari kode bahasa, helicak merupakan perpaduan dari kata helicopter dan becak. Disebut helicak karena kendaraan tersebut beroda tiga. Dilihat dari kode sastra, pengarang menggunakan istilah helicak tidak menggunakan bajaj karena helicak dinilai lebih pantas jika digunkaan dalam sebuah karya sastra dari pada bajaj.
2. Baju kombor
Baju kombor adalah jenis pakaian yang digunakan untuk karate atau silat. Bjau tersebut merupakan pakaian yang menjadi ciri khas seorang yang suka berlatih bela diri. Jika dilihat dari kode bahasa, memang nama tersebut dinilai asing. Pengarang menggunakan nama tersebut agar lebih bernilai sastra. Penggunaan kata baju kombor lebih pantas dari pada menggunakan kata baju karate dalam sebuah karya sastra. Dilihat dari kode budaya, baju tersebut sering digunakan oleh orang-orang yang bergelut dalam dunia militer. Seorang tentara militer harus mampu berkarate, oleh karena itu mereka harus berlatih dengan baik, dan baju yang dikenakan oleh mereka disebut baju kombor. Pengarang menggunkaan istilah baju kombor karena pada cerita disebutkan ada orang yang sedang berlatih karate di sebuah rumah sakit militer.